Hebatnya Surat Pembaca di Koran

 

Ingin tahu hebatnya Surat Pembaca di media massa ? Bentuknya sederhana, hanya dua hingga tiga alinea. Semua orang bisa menulis surat tersebut. Mirip bikin surat cinta atau curhat ke teman dekat saja. Setelah diketik, lalu diprint, kemudian  dikirim ke surat kabar. Atau langsung di-emaikan ke alamat redaksi.  Pasti dimuat. Kalaupun tidak tayang, itu  karena pertimbangan redaksi semata, misalnya menyinggung perasaan pribadi, identitas diri tidak ada, atau ada unsur SARA.

Fungsi surat pembaca melebihi berita biasa. Selain sebagai kontrol sosial, juga buat memberi masukan pada instansi tertentu. Bagi redaksi surat kabar, keberadaan rubrik itu sebagai sarana interaksi antara surat kabar dengan pembacanya. Keberadaan surat pembaca, menjadi tolok ukur bahwa media tersebut menjadi pilihan masyarakat banyak untuk menumpahkan uneg-unegnya.

Bagi seorang penulis, atau masyarakat umum, rubrikasi itu menjadi sarana effektif menuangkan ‘suaranya’. Bagi yang membaca, bila tulisan Surat Pembaca tersebut berupa kritikan, bisa menjadikan reaksi tersendiri. Bahkan, bisa menggemparkan istana negara. Seorang Presisen juga bisa bereaksi keras.

Ingat tulisan salah seorang pembaca surat kabar yang dimuat di Harian Kompas, Jumat, 16 Juli 2010. Yang nulis adalah Hendra NS, warga Cibubur. Gara gara tulisan itu, istana geger. Apalagi pemicunya, kalau bukan tulisan tersebut. Padahal, isinya hanya keluhan Hendra, lantaran iring iringan rombongan Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY), saat perjalanan dari Cikeas menuju Istana, tiap hari.

Hendra NS, dalam tulisannya, mengaku jadi korban makian Pasukan Pengaman Presiden ( Pasoampres ).  Dia, layaknya pengguna jalan lain di jalan tol, begitu mendengar suara sirine, langsung minggi ambil posisi aman. Pemandangan tiap hari itu dialami oleh Hendra NS. Begitu juga warga Bogor – Jakarta, yang tiap hari melewati jalur tersebut, pada jam jam tertentu, pasti merasakan yang sama.

Inilah tulisan lengkap surat Hendra NS yang dikirim ke Hariam Kompas,  16 Juli, di rubrik Surat Pembaca, hingga menjadi momentum liputan beberapa  surat kabar lainnya di tanah air. Seluruh Koran nasionalpun akhirnya memberitakan ‘kegelisahan’ istana negara. Ini surat pembaca tersebut:

Trauma oleh Patwal Presiden

Sebagai tetangga dekat Pak SBY, hampir saban hari saya menyaksikan arogansi Patroli dan Pengawalan (Patwal) iring-iringan Presiden di jalur Cikeas-Cibubur sampai Tol Jagorawi. Karena itu, saya-juga mayoritas pengguna jalan itu-memilih menghindar dan menjauh bila terdengar sirene Patwal.

Namun, kejadian Jumat (9/7) sekitar pukul 13.00 di Pintu Tol Cililitan (antara Tol Jagorawi dan tol dalam kota) sungguh menyisakan pengalaman traumatik, khususnya bagi anak perempuan saya.

Setelah membayar tarif tol dalam kota, terdengar sirene dan hardikan petugas lewat mikrofon untuk segera menyingkir. Saya pun sadar, Pak SBY atau keluarganya akan lewat. Saya dan pengguna jalan lain memperlambat kendaraan, mencari posisi berhenti paling aman. Tiba-tiba muncul belasan mobil Patwal membuat barisan penutup semua jalur, kira-kira 100 meter setelah Pintu Tol Cililitan. Mobil kami paling depan. Mobil Patwal yang tepat di depan saya dengan isyarat tangan memerintahkan untuk bergerak ke kiri. Secara perlahan, saya membelokkan setir ke kiri.

Namun, muncul perintah lain lewat pelantam suara untuk menepi ke kanan dengan menyebut merek dan tipe mobil saya secara jelas. Saat saya ke kanan, Patwal di depan murka bilang ke kiri. Saya ke kiri, suara dari pelantam membentak ke kanan. Bingung dan panik, sayapun diam menunggu perintah mana yang saya laksanakan.

Patwal di depan turun dan menghajar kap mesin mobil saya dan memukul spion kanan sampai terlipat. Dari mulutnya terdengar ancaman, “Apa mau Anda saya bedil?” Setelah menepi di sisi paling kiri, polisi itu menghampiri saya. Makian dan umpatan meluncur tanpa memberi saya kesempatan bicara. Melihat putri saya ketakutan, saya akhirnya mendebatnya.

Saya jelaskan situasi tadi. Amarahya tak mereda, malah terucap alasan konyol tak masuk akal seperti “dari mana sumber suara speaker itu?”, atau “mestinya kamu ikuti saya saja”, atau “tangan saya sudah mau patah gara-gara memberi tanda ke kiri”. Permintaan saya dipertemukan dengan oknum pemberi perintah dari pelantam tak digubris. Intimidasi hampir 10 menit yang berlangsung tepat di depan Kantor Jasa Marga itu tak mengetuk hati satu pun dari anggota Patwal lain yang menyaksikan kejadian itu. Paling tidak, menunjukkan diri sebagai pelayan pelindung masyarakat. Karena dialog tak kondusif, saya buka identitas saya sebagai wartawan untuk mencegah oknum melakukan tindak kekerasan. Ia malah melecehkan profesi wartawan dan tak mengakui perbuatannya merusak mobil saya. Identitasnya tertutup rompi. Oknum ini malah mengeluarkan ocehan, “Kami ini tiap hari kepanasan dengan gaji kecil. Emangnya saya mau kerjaan ini?”

Saat rombongan SBY lewat, ia segera berlari menuju mobil PJR-nya, mengikuti belasan temannya meninggalkan saya dan putri saya yang terbengong-bengong.

Pak SBY yang kami hormati, mohon pindah ke Istana Negara sebagai tempat kediaman resmi presiden. Betapa kami saban hari sengsara setiap Anda dan keluarga keluar dari rumah di Cikeas. Cibubur hanya lancar buat Presiden dan keluarga, tidak untuk kebanyakan warga.

HENDRA NS

Cibubur

Apa yang terjadi setelah surat pembaca tersebut terbit. Reaksi pro kontra. Yang pro, menganggap bahwa kondisi jalan di Jakarta memang macet. Bila setiap hari rombongan Presiden pulang pergi dari Cikeas- Istana, pasti mengganggu ribuan pengguna jalan di sepanjang jalur rumah kediaman Presiden hingga istana negara.

Sedang yang kontra, melihat sebagai ekses dari pengawalan seorang kepala Negara. Yang terakhir ini menganggap hal yang wajar bila seorang Presiden dikawal panpampres dengan membuka jalur istimewa. Ini sebagai bentuk pengawalan kepala negara, yang harus dilakukan oleh pasukan khusus presiden.

Terlepas dari itu semua, Surat Pembaca dari Hendra NS itu, telah membuat diskusi terbuka di setiap surat kabar.  Momen tersebut tidak bisa ditinggalkan oleh surat kabar. Berita seputar pengamanan yang berlebihan hingga mengganggu kondisi jalan Jakarta yang memang macet, mejadi berita besar. Awalnya dari surat pembaca.

This entry was posted in Jurnalistik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply