Sisi Lain dari Sebuah Fakta Berita

Pengalaman menyelenggarakan diklat penulisan gratis di beberapa tempat, baik  lembaga pendidikan  setingkat SLTA, mahasiswa dan umum, menyisakan ide segar, bagaimana  kami bisa sharing pada  calon penulis, untuk selalu melihat dari sisi lain sebuah fakta. Baik itu fakta peristiwa, maupun fakta pernyataan.

Sebab,  karya media tidak lebih dari rekonstruksi kata kata.  Eit,,,, tunggu dulu. Ini bukan profokasi. Maksudnya, permainan kata- kata bisa saja dilakukan oleh penulis siapapun. Bahkan, penulis juga harus melakukan rekonstruksi kata kata itu. Sebagaimana , fakta yang ada selama ini bahwa pernyataan peristiwa dari sumber yang resmi, juga hasil rekonstruksi melalui kata kata.

Penjelasannya begini. Siapa yang menjadi sumber informasi Anda. Katakanlah, Bapak Drs. Sumber Berita, MM.  Jabatannya, Kepala Humas di sebuah institusi negara. Dia berbicara begini,” Tidak ada korupsi. Itu hanya kesalahan administrasi. Petugas hanya memanggil saja pejabat – pejabat yang terkait untuk dimintai keterangan.”

Demikian juga ketika seorang penyidik mengatakan, “ Kami tidak melepaskan tersangka. Memang belum ada penyidikan, masih sebatas penyelidikan. “ Atau begini, “ Perkaranya tidak bisa dilanjutkan, karena tidak cukup bukti.”

Thuing, thuing…!! Bagi penulis kritis yang bisa melihat fakta  lain, pasti menyikapinya dengan nada, huuuuuuuu,,,,,. Tapi,  sebagai seorang penulis, Anda harus mengutip perkataan resmi tersebut. Tidak boleh dikurangi, apalagi ditambahi . Tulis apa adanya ,  sesuai ‘pernyataan’ yang disampaikan.

Fakta pernyataan dan fakta peristiwa, adalah dua hal yang kadang kala menjadi fakta baru, yakni fakta perbedaan. Nah, dalam Kursus Jurnalistik.com, hasil pengalaman bertahun tahun selama menjadi journalis, menyisakan ide segar, mengapa hal hal seperti ini, tidak disampaikan ke audiens dalam pelatihan kepenulisan.

Seorang  teman dari Bekasi, Jawa Barat, yang pernah membaca ebook ‘Rahasia Kuasa Media” dari Kursus Jurnalitik.com,  sempat mengatakan ke temannya yang kebetulan menjadi staf di bagian humas sebuah perusahaan di Bogor.  Katanya, ternyata materinya, bukan teori menulis saja. Lebih dari itu. Sisi lain dari penulis media, dikupas tuntas. ” Kalo’ Teori, Itu Mah Gratis !”

 

This entry was posted in Jurnalistik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply