Citizen Journalism Dimata Media Mainstream

Citizen Journalism. Apa yang ada dibenak Anda, ketika mendengat kata-kata bencana Tsunami. Bagaimana ingatan Anda, ketika membayangkan bencana yang dahsyat tersebut. Meskipun tidak mengalaminya, saya sendiri, tidak sulit untuk menggambarkan dahsyatnya bencana alam tersebut. Mungkin saja, Anda merasakan hal yang sama.
Sebagai orang yang tidak terlibat langsung, ingatan saya tertuju pada sebuah rekaman video amatir milik Cut Putri, dara asli kelahiran Aceh. Perempuan itu berhasil merekam detik demi detik tragedy yang meyayat hati, bencana Tsunami. Rekaman video yang dibuat 26 Desember 2004 itu, mencengangkan.
Bukan saja pemirsa televisi di seluruh tanah air, tetapi juga pembaca media cetak di seluruh nusantara. Semua pembaca surat kabar apapun dan pemirsa televisi apapun. Pasalnya, semua media cetak dan televisi mengambil enggel kejadian tsunami dari hasil rekaman video Cut Putri. Cut Putri hanyalah seorang warga yang kebetulan mengambil gambar detik demi detik bencana alam Tsunami di Aceh.
Beberapa stasiun televise maupun surat kabar, akhirnya mengambil gambar video rekaman Cut Putri, untuk menggambarkan kondisi dan situasi bencana yang sebenarnya. Rekaman video cameramen televise yang meliput tragedy itu, hanya rekaman update saja. Beberapa acara televise yang mengomentasi tragedi tersebut, juga terus mengulang ulang rekaman video Cut Putri. Berita utama beberapa surat kabar juga berkali kali mengambil gambar hasil rekaman putrid Acveh tersebut.
Lantas, apa peran Cut Putri dalam system jurnalistik ?. Di beberapa negara, citizen journalism sudah banyak dikenal. Beberapa televise dan media cetak memberikan ruang bagi audiennya. Di Indonesia, citizen journalism juga sudah dikenali sejak berdirinya media media tersebut. Hanya saja, penekanannya saja yang dirasa kurang.
Namun, sejak beberapa momentum yang mengangkat jurnalistik warga, misalnya momen Tsunami ini, beberapa stasiun televisi memberikan ruang dan waktu untuk pemirsa. Begitu juga surat kabar- surat kabar di tanah air, memberikan space untuk jurnalistik warga. Kini, gaung citizen journalism, makin membahana dengan persaingan media untuk merebut audiennya.
Sebut saja, Metro TV, Net TV , SCTV dan lainnya, berlomba memberikan space yang cukup banyak untuk liputan jurnalis warga. Beberapa surat kabar dengan model edisi cetak, juga memberikan space untuk jurnalistik warga. Bahkan, liputan jurnalistik di Portal berita juga memberikan porsi yang sama untuk para jurnalis warga tersebut.
Mengapa harus jurnalis warga ? Kenapa citizen journalism  dianggap penting bahkan dahsyat ? Bagi pengelola media massa, mereka tidak ingin ditinggalkan audiennya. Ini yang penting, bahkan teramat penting. Ketika audiens berlpaling ke model media lainnya, para pengelola media massa pasti saja kehilangan bisnisnya.
Sejak era web 2.0 hadir dan turut meramaikan jagat informasi, keberadaan media mainstream sedikit terganggu. Begitu juga sejak media social, meramaikan jagat maya, audiens media mainstream berkurang. Diantara media mainstream itu, adalah televisi, radio dan surat kabar. Tantangan bagi media mainstream, bila audiensnya berpaling, bisnisnya pasti terganggu.
Karena itulah, model komunikasi dua arah, antara audiens dengan awak media mainstream menjadi bagian yang tidak bisa dielakkan. Audiens dilibatkan secara aktif dengan cara menjadikan audiens sebagai jurnalis. Jurnalis warga ini semakin trend setelah beberapa mediamainstream melakukan hal yang sama. Itulah citizen journalism