Pesan Dahlan Iskan : “ Bikin Koran Yang Hari Ini Dibaca Hari Ini Juga”

“ Saya ingin, koran Memorandum terbit lebih awal. Berita hari ini dapat dibaca hari ini pula. Kalau perlu terbit dua kali dan dapat dibaca dua kali, pagi dan sore hari,” kata Dahlan Iskan, ketika duduk dalam satu meja, dengan penulis dalam rapat evaluasi Jawa Pos Group, se Indonesia, di Bangka Belitung, beberapa waktu lalu.

Ide Dahlan Iskan, menjadikan Memorandum terbit pagi dan sore tersebut, sebelumnya sudah disampaikan dalam rapat direksi.
Sebenarnya, saya sudah menyuruh Sukoto ( Direktur PT. Memorandum Sejahtera, penerbit Koran Harian Pagi Memorandum, red) untuk membuat edisi sore seperti yang dilakuan koran – koran metro di luar Jawa. Dahlan Iskan menyebut beberapa nama koran metro dibawah bendera Jawa Pos Group, Pakanbaru MX dan Pos Metro. Sekitar Jam 17.00 waktu setempat, koran hari itu juga sudah bisa dibaca audiens.
Saat itu, kami duduk dalam satu meja. Kebetulan, meja yang disediakan untuk Memorandum, hanya kami tempati berdua, yakni bersama manager Keuangan Memorandum, Gatot Tawekkal. Ada tiga kursi yang disediakan panitia. Saat itu, saya mewakili Direktur Memorandum, Drs Sukoto, yang berhalangan hadir karena ada kesibukan di Surabaya. Demikian juga manager pemasaran Ahmad Nurzaman juga berhalangan hadir karena mendampingi Direktur Memorandum, Sukoto.
Dalam rapat evaluasi group yang diikuti seratus lebih anak perusahaan itu, dipimpin Ridla K Liamsi. Saat acara tengah berlangsung, tiba tiba Dahlan Iskan dan Asrul Ananda, serta Alwi Hanu, datang. Tepuk tangan aplaus terhadap kehadiran para bos di Jawa Pos Group, gemuruh . Rapat sempat berhenti sejenak . Sesaat kemudian rapat diteruskan.
Seperti biasa, Dahlan Iskan, jalan mengelilingi peserta rapat. Kebetulan, meja yang disediakan untuk PT Memorandum, masih tersisa satu kursi kosong. Dahlan Iskan tiba tiba duduk di samping saya. Dahlan menanyakan perkembangan Memorandum. Saya bersama Gatot Tawekkal menjelaskan seadanya.
Koran Memorandum, waktu itu paling muda di kelompok bisnis Jawa Pos Group. Sebelumnya, Memorandum dikelola oleh managemen keluarga, dibawah bendera PT H Agil H Ali . Harian Pagi Memorandum pada tahun 2005, managemennya diambil alih Jawa Pod Group, setelah didera hutang ke PT Temprina , perusahaan percetakaan Group Jawa Pos. Dahlan Iskan menunjuk Direktur Sukoto, menggantikan direktur lama, dr Mangestuti Agil, istri almarhum H Agil H Ali.
Sebagai satu –satunya koran kriminal di Jawa Timur, Memorandum berkembang hingga mengelola 5 anak perusahaan, tiga media lokal, yaitu Harian Memo Kediri, Harian Memo Arema dan Harian Memo Timur serta dua tabloid, tabloid Suksesi dan tabloid Memo Segar. Kelima anak perusahaan itu, masing masing tumbuh dengan pasarnya sendiri-sendiri. Sedang induknya, yakni Harian Memorandum, tetap menguasai pasar Surabaya.

Dahlan Iskan, menceritakan tentang ide tersebut untuk Memorandum di Surabaya. Harapannya, di Surabaya, koran Memo sudah dibaca pembacanya pada sore, hari itu juga. Ide itu sudah disampaikan langsung ke direktur Memorandum Sukoto. Sebelumnya, di Surabaya, Direktur Sukoto juga sempat menyampaikan ke beberapa staf perihal ide dari Dahlan Iskan. Sayangnya, sampai hari ini, ide tersebut belum terealisasi.
Ada yang menarik, dibalik ide Dahlan Iskan tersebut. Di Group Jawa Pos, khususnya di Jawa Timur, Dahlan Iskan belum memiliki koran sore. Harapan yang ditujukan ke Memo, lebih prospektif karena Memorandum adalah satu satunya koran metro dan memiliki pembaca fanatik. Selain itu, oplaq yang beredar di Surabaya – Sidoarjo , sudah cukup besar.
Sekitar tahun 2000-an , Jawa Pos Group pernah mengambil alih koran harian zaman orde baru, Karya Darma. Saat itu, namanya bergandi dengan Pewarta Siang. Terbitnya juga siang. Jadi, berita hari itu, bisa dibaca oleh masyarakat Surabaya pada hari itu juga. Sayangnya, Pewarta Siang kandas di tengah jalan.
Dari sisi konten, Pewarta Siang sudah keluar dari pakem Karya Darma. Sebelumnya, Karya Darma lebih sering menuliskan berita-berita pembangunan. Setelah berubah menjadi Pewarta Siang, berita utamanya, sering bercirikan koran-koran metro. Perubahan konten itu , tentu saja karena manajemen harus berhadapan dengan pasar .
Ide Dahlan Iskan untuk tetap melayani pembaca pada siang dan sore hari, tampaknya bisa berharap pada Memorandum. Ketika membicarakan kemungkinan terbit siang hari, Direktur Memorandum Sukoto, membaca bahwa itu sebagai peluang . Saya sendiri, berharap dengan edisi sore, masyarakat Surabaya tidak perlu menunggu koran pagi untuk mendapatkan informasi yang terjadi pada hari itu juga.
Koran pagi, tetap menjadi bagian dari Memorandum. Kejadian- kejadian di atas jam 15.00 hingga kejadian pada malam hari, bagian dari konten Memo yang terbit pada pagi hari. Informasi tiada henti. Manager marketing waktu itu, Ahmad Nurzaman, juga sangat menyambut baik rencana tersebut. Tentu saja, Ahmad melihat dari sisi pengembangan sirkulasi di tengah kota wilayah Surabaya, Gresik dan Sidoarjo serta Mojokerto. Distribusinya masih dekat dengan Surabaya, sehingga koran masih bisa diterima siang atau sore hari.
Ide koran yang bisa dibaca hari itu juga, dari sisi konten, menjadi kekuatan tersendiri. Karena memiliki kekuatan konten, dipastikan media lebih profitable. Koran sore memang sudah ada, namun koran tersebut kategori koran umum. Bukan koran metro. Informasi yang disajikan, konten yang dimenej, tentu saja berbeda. Konten yang dikeloka di koran umum, meskipun terbit sore, sudah bisa diakses melalui situs- situs internet.

One thought on “Pesan Dahlan Iskan : “ Bikin Koran Yang Hari Ini Dibaca Hari Ini Juga”

Leave a Reply